Suatu Hari Di Rumah Rasulullah (Bagian 3)

 

Bergaul dengan Istri

 Dalam keluarga kecil, istri merupakan tempat berteduh, ketenangan dan ketentraman.

Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Dunia semuanya adalah kesenangan dan sebaik- baik kesenangan dunia adalah istri shalihah (Shahih al Jami’ as Shaghir)

Di antara kebaikan akhlaq Nabi Sallallahu alaihi wa sallam dan pergaulannya yang baik adalah beliau memanggil ummul mukminin dengan nama kesayangan, dan memberinya kabar yang sangan menyenangkan hati.

Aisyah Radhiallahu anha berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu” (Muttafaq alaih)

Bahkan Nabi umat ini, orang yang paling baik akhlaqnya dan paling agung kedudukannya, menjadi contoh yang sangat baik dalam pergaulan dan memahami jiwa dan perasaan istrinya, memposisikan Istrinya pada posisi yang disukai oleh semua wanita dari suaminya.

Aisyah radhiyallahu’anhu berkata, “Aku minum ketika aku sedang haid lalu aku memberikannya kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, maka beliau meletakkan mulutnya ke tempat bekas mulutku, dan aku memakan daging, lalu Beliau mengambilnya dan meletakkan mulutnya ditempat bekas mulutku”. (HR muslim)

Nabi Sallallahu Alaihi Wa Sallam tidaklah seperti yang disangka dan dituduhkan orang-orang orientalis dengan berbagai tuduhan palsu yang tak berdasar, tetapi beliau mencari cara terbaik dan termudah dalam bergaul dengan istrinya.

Dari Aisyah radhiyallahu’anhu,  “Bahwasanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam pernah mencium salah seorang istri nya Kemudian beliau pergi sholat dan tidak berwudhu”. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dalam banyak kesempatan Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam menjelaskan dengan sangat jelas kedudukan wanita yang tinggi di sisi-nya dan bahwa mereka mempunyai tempat dan kedudukan yang mulia. Beliau memberi jawaban kepada Amr Bin Ash dan memberitahunya bahwa mencintai istri bukanlah sesuatu yang dianggap tabu bagi orang laki-laki sejati.

Dari Amr Bin Ash, “Bahwasanya Beliau berkata ada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai? Beliau berkata: Aisyah” (muttafaq Alaihi)

Siapa yang ingin tahu dasar kebahagiaan suami istri dan kehidupan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam hendaknya memperhatikan hadits Ummul mukminin, bagaimana kehidupan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersamaannya.

Dari Aisyah radhiyallahu Anhu berkata: “Aku mandi bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam dari satu bejana (HR Bukhari)

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan kesempatan baik untuk menyenangkan dan membahagiakan istrinya dengan hal-hal yang mudah.

Aisyah radhiyallahu Anhu berkata, “Aku ikut bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Assalam dalam salah satu perjalanannya, waktu itu aku masih muda dan tidak gemuk. Beliau berkata kepada orang-orang yang bersama beliau, “Majulah!”, maka mereka maju, kemudian Beliau berkata kepadaku, “Mari kita berlomba lari”, lalu aku berlomba dengan beliau dan aku menang dan beliau pun diam, hingga tatkala bobot badanku bertambah dan aku menjadi gemuk aku ikut bersama beliau dalam suatu perjalanan. Beliau berkata kepada orang-orang yang bersamanya, “Majulah kalian”,  kemudian berkata, “Mari kita berlomba lari”, dan ternyata beliau menang. Beliu tertawa dan berkata, ‘Ini balasan yang dulu'” (HR Ahmad)

Ini adalah candaan lembut dan perhatian yang penuh. Beliau menyuruh rombongan agar berjalan lebih dulu agar beliau bisa berlomba dengan istrinya dan menyenangkan istrinya, kemudian beliau mengumpulkan kedua canda beliau yang lalu dan yang sekarang, di mana Beliau berkata, “Ini gantinya yang dulu”.

Siapa yang banyak mengembara di bumi Allah yang luas pada saat ini dan memperhatikan orang- orang berpangkat, maka ia akan sangat kagum terhadap perbuatan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dimana beliau adalah seorang nabi yang mulia, pemimpin yang ulung tokoh Quraisy dan Bani Hasyim. Di saat mencapai kemenangan, kembali memimpin pasukan yang membawa kemenangan gemilang, namun demikian beliau adalah orang yang sangat kasih, lemah lembut terhadap istri-istrinya para ummahatul mukminin,  memimpin pasukan, jauhnya perjalanan dan kemenangan demi kemenangan tidak melupakan beliau bahwa beliau mempunyai istri- istri yang lemah yang membutuhkan sentuhan kasih sayang dan belaian kasih yang bisa menghapus kesulitan jalan dan menghilangkan  kepenatan dalam perjalanan.

Al-bukhari meriwayatkan bahwasanya tatkala Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kembali dari perang Khaibar dan menikah dengan Shafiyah binti huyay Radiallahu anha beliau melilitkan kain di sekitar unta yang dikendarainya untuk menutupi Syafiyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya lalu Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai pijakan ketika naik ke punggung unta.

Pemandangan ini menunjukkan kerendahan hati Rasulullah salallahu alaihi wasallam, walaupun beliau seorang pemimpin yang sukses, dan nabi yang diutus, mengajarkan umatnya bahwa sikap rendah diri dengan istrinya dengan menjadikan lututnya sebagai pijakan istrinya dan membantunya menaiki unta sama sekali tidak mengurangi kedudukan beliau.

Diantara wasiat beliau kepada umatnya,
“Berwasiat lah kepada wanita dengan baik” (HR. muslim)


Suatu hari di rumah Rasulullah

(Bagian 1)

(Bagian 2)


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s