Beri Udzur, dan Jangan Sampai Merasa Suci  

Kadang karena kita sehabis giat melakukan amal shalih, kerapkali nyinyir habis-habisan dan menghukumi sadis saudara kita yang berbuat kesalahan…

Berbangga dengan ketaatan dan merendahkan orang yang berbuat kemaksiatan…
Lupa hakikat diri yang padahal aibnya menggunung tinggi menjulang, hingga tak terhitung dengan jari kaki dan tangan…

Iblis memang tak pernah bosan untuk menggelincirkan manusia dengan tipuan-tipuan…

Fa laa tuzakkuu anfusakum…

Padahal kita tidak tahu bagaimana akhir keadaan diri kita dan saudara kita yang telah berbuat kesalahan.
Bisa jadi karena 
ujub dan bangga, membuat amal kita tak bernilai dan berharga. Sedang saudara kita, sehabis berbuat kesalahan justru beristighfar dan makin dekat pada Allah ta’ala…

Saya jadi ingat penuturan Mutharrif bin Abdillah -dalam hilyatul auliya- yang amat berkesan,

“Aku lebih suka; tidur semalam suntuk lantas bangun pagi dengan penuh penyesalan, daripada aku qiyamul lail sepanjang malam akan tetapi bangun pagi dengan perasaan ujub dan penuh kebanggaan.”

Fa laa tuzakkuu anfusakum…

Ustādz Erlan Iskandar hafidzahullāh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s